Semakin Tua, Cinta dikalahkan Kenyataan?
Kemarin saya baru bergabung dengan geng saya waktu di SMP di blackberry groups. Semuanya cewek, jumlahnya ada 9 orang (sebenarnya 15, tapi yang bisa dikontak dan punya bb cuma 9). Dari ngobrol menanyakan khabar, ada 4 diantara kami yang janda, dua di perkawinan kedua. Ternyata hidup tidak selancar di filem2 ya…
Biasalah, setelah menanyakan khabar, lokasi dan kesibukan masing2, kita ngobrolin teman2 yang lain, lalu mulailah ajang perjodohan. Kemarin yang jadi bahan poyok2an adalah saya. Mulai dari dijodohkan dengan teman SMP (yang diprotes sama teman2 yang lain) sampai tahu2 ada satu orang yang bilang, “Ini ada temen gue yang nyari istri, duda anak dua. Posisi di kantor lumayan tinggi, mapan deh. Putih, tinggi. Islam.”. Nah lho. Ramailah yang lain menyahut supaya gayung ini bersambut. Sementara saya anteng2 saja. Yang menjodohkan rada serius, sambil mengatakan kalau saya mau, akan dihubungi. Lha saya kok malah takut.
Waktu dulu masih umur 20-an, rasanya dikenalin ngga ada takut2nya. Mulai pacaran juga ngga ada takut2nya. Ya mungkin waktu itu masih penuh angan2 dan harapan, apalagi namanya baru meniti kehidupan yang sebenarnya. Sekarang sudah 40-an, sudah punya kehidupan sendiri, akhirnya mulai mikir, hmh, apa iya saya butuh pendamping ya? Apa iya saya perlu hidup seatap dengan seseorang dan menyesuaikan diri lagi dengan orang lain?
Saya bandingkan dulu waktu masih lebih muda, kalau mau dikenalkan sama orang paling nanya, kerja di mana, tamatan mana. Sekarang pertanyaannya lebih belerot-lerot deh, perasaan. Mulai dari kerja di mana. Tinggal di mana. Kerjaannya apa. Anaknya berapa. Suka anjing apa ngga. Suka olahraga apa ngga. Orangtuanya masih ada apa ngga. Yang mana, pertanyaannya berkisar antara, apa dia bakal nyusahin gue apa ngga, atau, apa gue musti nyesuaiin diri terlalu banyak sama dia apa ngga.
Masalahnya begini. Misalnya kalau dulu saat romantisme menggebu-gebu, ga apalah pacar ngga punya mobil, kemana-mana naik motor. Nanti juga kalau kerja agak lamaan bisa nyicil mobil abis kawin. Gitu kan pikirannya. Kalau sekarang, mikir pacar pengangguran dan ga punya duit pastinya mikir, “Gile, hari gini ga ada duit, trus ntar mau numpang hidup ama gue? Sementara tanggungan gue juga bukannya ngga ada.”.
Atau, kalau dulu jarak jauh ayo dijabanin aja. Long distance relationship, makin bikin hot aja. Sekarang, haduh, hari gini, terus kalau gue mau ngobrol atau lagi butuh teman curhat, jauh amat…capek hati, biar kata ada skype juga, males deh. Iya, mungkin itu kata yang tepat, MALAS. Sudah lebih malas untuk menaruh effort untuk relationship yang butuh terlalu banyak usaha.
Atau, dalam kasus cowok yang mau dikenalin ke saya, pas saya tanya rumahnya di mana, wuiiiih, Jakarta coret, bo. Maksud gue, kalo tahu2 jadi, gue musti bangun jam berapa ke kantor? Sekarang kan enak, di tengah kota, itu aja udah macet2an. Apalagi nun jauh di sana, trus gue mau ke gym gemana?
Makanya, kalau saya dikenalin, lebih senang kenalan sebagai teman saja. Ngeri kenalan sama orang yang seperti ngejar target mau kawin lagi atau nyari istri lagi. Soalnya saya ngga buru2, saya ngga ngejar target. Saya ngga takut kalau ternyata sendirian seumur hidup, saya ngga khawatir ngga ada yang naksir karena saya sudah peot. Tapi saya khawatir kalau pihak sana berharap terlalu banyak, karena saya juga lumayan demanding. Ya iyalah, masa’ abis pacaran terus kwalitas hidup menurun?
Sebenernya bener ngga sih jalan pikiran saya? Maunya kan setelah punya pasangan, maunya hidupnya lebih tenang, lebih enak. Kwalitas hidup lebih baik. Kalau jadi lebih menurun, ngapain juga?
Misalnya nih, sekarang saya punya 3 anjing, rumah biar nyewa juga di tengah kota, relatif dekat ke kantor. Mobil lumayan oke. Trus tahu2 kawin, pindah ke pinggiran kota, ganti mobil yang lebih irit, trus anjing2 saya tidur di luar, ngga di kamar seperti sekarang. Lhaaaaaa……apa ngga mendingan hidup begini saja dan kita sebaiknya berteman saja?
Itu yang saya mau sebenarnya dari ajang2 perjodohan ini. Kenal, berteman, tanpa berharap masuk ke kehidupan saya. Makanya kalau ada yang bilang, “Ini ada yang lagi cari istri” saya suka bilang, “Saya lagi ngga cari suami. Tapi kalau temenan saja mau”. Trus orang yang mau ngenalin nyangkanya kita belagu. Apa iya belagu?
Intinya, semakin kita tua, toleransi semakin rendah karena sudah punya kehidupan yang lebih stabil dan malas merubah kehidupan dan kebiasaan itu. Dikit2 ya ngga apalah, tapi kalau sangat mayor, ya malas juga ya, saya sih malas. Maunya perubahan hidup ya tidak terlalu banyak berubah, paling tidak yang rutin2 dan kebiasaan2 yang bagus tidak ingin kita tinggalkan. Kalau bisa, jangan ada yang berubah kecuali kita jadi punya companionship, teman curcol, teman ngobrol, jadi lebih enak. Alhasil, saya lebih suka berteman dulu, baru nanti lihat seperti apa, apa saya bisa menerima kehidupannya atau tidak. Makan waktu lama kan. Saya ngga buru2 juga. Available but not looking kan, mottonya.
Bagaimana dengan Anda?




Memang terkadang kita dapat dan mudah menyimpulkan kisah perjalanan kehidupan kita, namun apakan itu cukup???
Atau kita jalani saja garis hidup ini, seperti air mengalir.
duka, lara, rasa dan cinta pun senantiasa menyertainya,
Konklusi adalah suatu hasil dari bagaimana akal/logika mencernanya.
Untuk MBB, yang senantiasa menulis dalam Cinta…
Cinta itu anugerah, maka berbahagialah bilamana dalam perjalanan hidup ini kita bisa mendapatkannya. Dan ketika itu, logika pun akan menyesuaikan adanya.
Untuk itu, marilah bersilaturahmi dengan Cinta… , walau hanya dalam rangkaian tulisan
Halo, htku4mu, kalau saya bilang sih, mungkin harus seimbang ya. Karena yang namanya cinta itu bentuknya dalam perkawinan akan berubah. Terutama kalau terlalu banyak toleransi, bentuknya biasanya jadi ngga keru-keruan. Kalau saya terus terang tidak kenyang hanya dengan cinta ya, musti ada sisi practicalitynya juga. Ya gitu deh, saya sih merasa waktu muda mengikuti cinta kemanapun dia pergi, tetapi setelah lebih dewasa, rasanya lihat kemana itu cinta membawa saya. Kalau dibawa ke tempat yang susah…males juga kali ya.
Mbaaaakkk… Aku tuh silent readermu
postinganmu tak subscribe, biasanya sih cuman tak baca di email aja.. Tp yg ini aku tuh kok pengen komen. Ini capricorn dan feminist banget deh mbak kayaknya, tulisan2 mbak itu persis apa yg ada di pikiranku. Dan aku pikir, it’s OK to stay single and happy setelah perceraianmu ituh. Ya bukan belagu (etapi orang2 capricorn emang cenderung belagu sih *sambil ngaca*), hidup2 guehhhh gitu. Ada cerita yg dekat dengan saya soal new-marriage (atau re marriage). Ipar saya (perempuan), saya ngeliatnya dia perempuan hebat, working mom, anak 2, punya katering. Umurnya juga 40something. Elha.. Dia pacaran dan nikah lagi, sama duda, kerjaan ga tetap, bawa anak 2, baik sih. Tapi aku sebenrnya punya feeling, she will be good by herself. Tapi siapa aku ya mbak, wong dia kakak ipar tertua. Adik2nya (semuanya laki2) semua mendukung. Alesannya: kan perlu temen ngobrol. Boookk… Temen ngobrol kaga mesti jadi suami baru kalikkkk
. Ya gatau lah apa pertimbangannya… Saya tetep deh, sampe dia resepsi masiiiiih aja ngeliatin calon kakak ipar baru saya dengan pandangan cuuuuurigaa, sampe dimarahin suami 

Soalnya saya ga abis pikir, ngapain “mundur” gitu. Kebayang ngurusin 4 anak, masih harus kerja keras, ngelayani suami, anak baru *mikirnya aja mumet* dan sekarang dia hamil! Saya lgs kethip-kethip… Resiko banget kan hamil diatas 40th? Aku deg2an sendiri… Cuman berdoa, semoga suaminya yg skg ga kurangajar ama kakak iparku. Tak cincang kalo sampe semprul kayak suaminya yg dulu
Elha kok jadi ngelantur ya mbak..
Eniweeeiiii… It’s your life, your risk, other can only giving advice.. Not pushing their advice
Hmmmh, Depeh, kadang kehidupan yang lebih baik itu ngga bisa dihitung juga sih. Kalau memang secara fisik banyak “mundur”, misalnya suami penganggur, bawa anak pula, tetapi yang ngejalaninnya hidup lebih tenang, kan itu bisa dibilang hidupnya jadi lebih baik. Itu namanya cinta kali ya. Masalahnya, seberapa cintamu padanya untuk dapat mengorbankan kenyamanan yang sudah ada sekarang…(eh, suami nganggur jadi bapak rumah tangga kan ngga apa2, ada yang nungguin anak. Sudah mulai ada lho, bapak rumah tangga. Emansipasi pria!).
Saya suka tulisan mbak.., m’inspirasi saya yg msh 23 thun ini..,=) ,kelak pengen jdi wanita yg mandiri , mapan, sperti mbak, salam kenal
Sy baru ngikutin blog ini dan suka dgn balesan balesan MBB. Sy stuja (eh stuju) atas balesan unt sy & depeh.
Tulisan dapat menggambarkan suasana hati dan mendapat advice dari tulisan yg menanggapinya untuk slalu menikmati hidup ini.
Dan ada juga yg baru bisa skedar menjalani dan let it be…answer.
Pilihan judul oleh MBB bikin kita kecebur ha..ha..ha.
Yang jelas “Hidup ini indah jikalau kita bisa menghargainya”.
Sy (dua sepuluh delta echo dua tujuh delta) ingin teman curhat walau hanya dlm tulisan dan bila terjodohkan maka hatilah yg berbahasa.
Menurut saya …
(terlepas dari berpasangan atau tidak berpasangan …)
hidup memang seharusnya lebih baik … dari hari ke hari …
kualitas pribadi juga seharusnya lebih baik …
baik financial – emosional maupun spiritual
Salam saya
Benar, Mas, hidup dari waktu ke waktu harus bisa menjadi lebih baik. Kalau mencari pasangan, hendaknya yang bisa membawa kebaikan, emosi, spiritual maupun fisik. Salam.
hii salam kenal iya dari vira ..
jangan lupa mapir keweb vira iya di http://www.rumahkiat.com/ vira mau berbagi pengalaman nih.:)
wah bagus juga iya blog ka2 … ^_^ good luck iya…..
Dear MBB
Saya berkunjung ke blog kamu secara enggak sengaja. Setelah saya baca, saya jadi tergerak untuk ikut mengkomentari.
Saya pria lajang pertengahan 30an. Melajang gara2 sibuk mengejar karir, pacaran kelamaan sampai akhirnya ditinggal.
Sering sekali saya dijodohkan sama teman2 dan keluarga, tetapi saya kesulitan menyesuaikan diri dengan orang2 yang dikenalkan ke saya. Tambah lama tambah sulit, dan akhirnya saya malah lebih menikmati kesendirian saya.
Saya merasa hidup yang saya jalani sekarang sepertinya sudah cukup baik. Walaupun ada kemungkinan dgn memiliki pasangan dapat membuat hidup lebih baik, tetapi saya tidak berani mengubah “kenyamanan” hidup sendiri untuk kehidupan berpasangan yang belum tentu akan lebih menyenangkan.
Bener, Mas Rustam, yang penting kita nikmati saja apa yang kita punya. Soal pasangan, nanti kalau waktunya tepat juga akan ketemu, insya’ Allah.
hii salam kenal iya dari vira ..
jangan lupa mapir blog vira iya di http://www.rumahkiat.com/ vira mau berbagi pengalaman nih.:)
wah bagus juga iya blog ka2 … ^_^ good luck iya…..
memnang begini dunia sering kalah manusia dengan kenyataan dan menyerah dengan kenyataan
emg it lbih bagus mbak,smua klau terburu”entr kt sendri yg bs rugi.yg mnurut orang klihatany bagus blm tentu it bagus buat mbak..kcuali prasaan dlm hati udh mnentukan/mengambil kputusan,mgkin it lbih baik. jaman skrang orang klihatan baik/bagus kebanyakan cm diluarny aja.aku dulu jg pernah mlakukan ksalahan besar..seorang cw yg udh syang bnget sm aku&udah menyerahkan drinya sm aku,mlah aku tnggalkan bgt saja.alhamdulillah dia tdk hamil.klau hamil mgkin pernikahan dini kali ya..krn msih klas 2sma.seandainy dia mau nunggu aku 1/2thn mgkin dia udh menjd istri..krn msalah sikon yg blm siap,dia inginya harus nikah melulu,membuat aku gk kuat menghadapinya..mgkin klau karmapala menimpaku aku jg ikhlas mnerimany,krn it mgkin hkuman ats perbuatanku..klau orang sudah prnah berkluarga,hidup sendri mgkin trasa hampa..tiada kasih sayang&perhatian dr psangan hati.mgkin..menjlani khidupan sehari”semangat pun psti kn berkurang.klau mnurutku mbak ny hrus cri lg..smga aja bs berdampingan smpai tua.(slmat berjuang)
Saya 41, prinsip available but not looking… itu bisa jadi makanan empuk laki laki yg memang maunya fun aja! Ujung2nya tetep perempuan yg rugi dan sakit hati ( oleh karna satu dan lain sebab ) untuk saya prinsip yang cocok utk saya adalah : Single but not available !
kadang cinta itu adalah alat berlindung. jadi sewaktu sudah punya pegangan lain, cinta menjadi sedikit hilang pamornya. Tapi bila, kemudian menemukan cinta lagi, itu adalah sebuah cinta sejati
salam cinta indonesia.