Jenis Undangan dan Usia

•Mei 10, 2011 • 8 Komentar

Saya sedang sendirian ketika terima sms dari temen yang mengajak untuk reunian.  Kali ini reuni untuk memperingati teman2 seangkatan yang sudah meninggal.  Karena kelompoknya tidak besar dan diadakannya di rumah teman yang dekat dengan rumah saya, saya datang.  Sesampai di sana, kita bicara mengenai berita2 yang kita terima dan biasanya seputar teman yang sakit, teman yang baru sembuh, dan sekarang beberapa teman yang meninggal karena stroke, jantung, maupun kanker.

Jadi mikir, beda ya, undangan2 yang kita terima di tiap-tiap dekade dalam kehidupan.  Coba pikir:

  1. Pesta ulang tahun anak2, pasti ada tiup lilinnya

    Ketika kita masih anak2 dan remaja, kita biasanya menerima undangan ulang tahun dari teman.  Pembicaraan juga ngga jauh2 dari pelajaran, permainan, ulangan dan yang sejenisnya.  Sewaktu kecil, undangan pesta kalau tidak ke rumah dengan mengundang badut, ya di McDonald atau tempat2 fastfood lainnya dengan badut juga.  Sementara di usia belasan, biasanya cuma dikasih duit sama orang tua terus terserah mau traktir teman2 ke mana.

  2. Ketika kita mulai memasuki akhir usia belasan tahun, kita mulai sibuk dengan undangan dari universitas-universitas.  Mungkin tidak literally mereka mengundang, apalagi yang sudah mapan dan ngetop, tetapi iklan di koran kan tetap saja bisa dihitung sebagai undangan massal, bukan?
  3. Ketika kita memasuki usia 20-an, kita sibuk dengan kuliah.  Tetapi kita juga mulai lulus kuliah, dan biasanya teman2 yang perempuan beberapa saat kemudian menyebarkan undangan kawin.  Rasanya waktu saya di usia 20-an, hampir tiap weekend ada acara resepsi perkawinan.  Soal kesehatan, jarang diomongin.  Biasanya kuat pesta dari malam hingga pagi terus paginya langsung masuk kantor.
  4. Ketika awal memasuki usia 30-an, kita masih banyak menerima undangan kawin, tetapi kali ini kebanyakan teman kita yang pria yang mulai mengikat janji setia dengan pasangannya yang berumur 20-an.  Di usia ini juga kita sering menerima undangan sunatan, atau mendengar kabar teman2 kita mulai mempunyai momongan.  Atau mungkin saudara kita mulai menikah dan mempunyai momongan, sehingga kita mulai dipanggil tante atau om.
  5. Memasuki usia 40-an, mulai badan terasa tidak terlalu fit seperti dulu.  Kalau dulu kuat begadang,

    Undangan kawinan

    sekarang untuk recover dari pesta semalam rasanya butuh waktu 2 hari.  Mulai deh, kita membandingan suplemen apa yang teman2 kita konsumsi.  Jenis “undangan” juga mulai berbeda.  Biasanya undangan reuni, tetapi kegiatan juga mulai nambah dengan menjenguk teman yang sakit karena penyakit jantung, stroke maupun penyakit2 yang dulu rasanya jauh tetapi sekarang teman2 kita mulai mengidapnya.  Sakit punggung soal yang biasa.   Di usia ini juga kita mulai dengar teman2 yang perkawinannya tidak mulus dan sampai cerai.  Di usia 40-an ini, orang tua dari teman2 kita juga sudah pada mulai menghadap-Nya.  Rasanya umur 40-an ini adalah titik tolak dimana kita mulai memikirkan hal2 yang lain selain hal2 yang duniawi.  Titik spiritualitas manusialah.

  6. Masuk umur 50, kita mulai menerima undangan ulang tahun setengah abad.  Kemudian disusul dengan undangan kawin anak2 dari teman2 kita yang berumur 20-an.  Mulai depresi juga ya, mendengan teman2 kita anak2nya sudah tamat kuliah, cari kerja, kawin, rasanya mulai terasa kalau memang umur sudah tidak muda lagi.  Teman2 juga sudah mulai berguguran dan sebagian mulai keluar penyakit2nya, upah dari kebiasaan2 ketika masih muda dulu.
  7. Masuk umur 60-an, saya musti ingat2 kehidupan orang tua saya ketika mereka di umur segini.  Rasanya hampir tiap hari ada undangan kawin anak dari kenalan mereka.  Selain itu, mereka mulai terdengar pergi melayat.  Kadang kenalan dekat mereka, kadang tante atau om kita yang meninggal dunia.  Rasanya juga penyakit yang dulu rasanya jauh bener mulai mengintai diri masing-masing.  Kalau di umur 40-an menelan suplemen, di umur 60 mulai membiasakan diri dengan memakan obat2an yang kalau tidak diminum fatal akibatnya.  Kalau reunian dulu di tempat kawinan, sekarang kalau tidak di rumah sakit lagi antre obat, medical check up, atau ya, kawinan anak2 teman.
  8. Masuk umur 70-an, rasanya jatah undangan kawin berkurang tetapi lebih sering melayat atau mengunjungi teman atau keluarga di rumah sakit.  Kalaupun menerima undangan kawin, paling datang pas akad nikahnya saja, sedangkan resepsinya lewat, karena sudah tidak kuat begadang, atau menu makanan sudah khusus, atau tidak kuat duduk lama.  Tante2 saya dan orang tua saya sudah dalam tahap umur segini.  Bukan penyakit lagi yang mengintai tetapi maut.

Usia lanjut, usia menikmati apa yang diusahakan saat muda

Kalau saya pikir2, sekarang2 ini saya mulai banyak bicara dengan kawan mengenai teman2 yang sedang sakit, baru sakit.  Kebanyakan sakit jantung dan stroke, atau masalah dengan cholesterol, tekanan darah, dan yang paling ringan, ketarik otot punggung (ini saya juga sering banget).  Undangan kawin kawan sudah langka banget, berita teman cerai mulai terdengar, orang tua teman yang meninggal juga sering terdengan.  Kawan yang meninggal pun sudah ada satu dua.  Senior2 saya sudah pada mulai ngawinin anaknya.  Anak2 teman saya yang perempuan sudah SMA, bahkan sudah ada yang kuliah, membuat saya merasa semakin tua karena rasanya baru tahun lalu selesai sorak2an pakai jaket kuning Himpunan Mahasiswa Geologi ITB di Aula Barat.  Di kantor juga selisih umur dengan staf yang termuda sudah bilangan kepala dua.  Rasanya sudah berumur banget dan juga rasanya kita sudah sampai titik tertentu di mana kita bisa bilang, “Saya sudah sampai di sini dan saya bangga”.

Tidak semua yang saya lalui itu menyenangkan.  Ada beberapa tahap dimana saya bingung dengan langkah karir.  Malah di umur 30-an saya sudah menyandang titel janda, yang merupakan titik melakukan “Plan B” setelah Plan A gagal total.  Tetapi saya hanya melihat ke belakang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.  Mungkin di masa depan saya akan melakukan kesalahan yang lain, yang akan menjadi masa lalu di usia saya yang nanti lanjut.  Namun saya berusaha tidak takut mengambil resiko karena hidup ini hanya sekali.

Paling tidak saya bisa mengatakan saya sudah melaluinya dan tiap2 umur yang saya lalui membuat siapa saya sekarang ini.  Dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menyesali sedikitpun apapun yang saya lalui, paling tidak bukan suatu penyesalan yang berarti.  Thanks to my parents yang senantiasa selalu membimbing saya sampai usia saya sekarang ini.

Nikmati hidup, lakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, jangan pernah menyesal.

Ke Pesta Sendirian?

•Mei 3, 2011 • 1 Komentar

Undangan kawinan (sekarang yang kawin anaknya senior, bukan temen lagi…berasa makin tua ngga sih?).  Pernah nggak rekan2 yang single merasa mau pergi pesta dengan siapa?  Atau pernah nggak tidak datang ke kawinan karena ngga ada teman?

Banyak temen2 saya yang single kelimpungan cari temen buat datang ke pesta kawinan.  Banyak yang malas datang sendirian.  Bukan hanya perempuan saja, laki2 juga ternyata begitu.  Tidak segan2 minta tolong nemenin kalau ada acara kawinan, sementara status masih jomblo.

Sebenernya kenapa ya, rikuh pergi sendirian ke pesta?  Toh pestanya orang yang kita kenal.  Nanti di keramaian juga kita berbaur dengan tamu lain atau ketemu dengan teman2 atau rekan2 kantor lainnya yang diundang.  Atau, kalau pesta keluarga, toh kita sebagian besar kenal dengan mereka dan mereka tahu statusnya kita itu single.  Beberapa teman yang saya tanya bilang, “Ah, males aja masuk ke ruang undangan sendiri”, “Nanti di sana bengong2 ngga tahu ngobrol sama siapa”.  Atau malah ada beberapa yang merasa malu datang sendirian.  Lho.

Saya kebetulan, mungkin, either kulitnya tebal atau sangat praktis dalam memandang hidup ini, belum pernah merasa males ke pesta sendirian.  Beberapa kali saya datang sendirian, turun dari taksi dan masuk ke ruang kondangan sendirian untuk kemudian berbaur bersama tamu2 yang lain.  Karena saya merasa saya datang untuk menghormati dan turut berbahagia atas hajat si empunya acara, jadi ya saya tidak pernah merasa salah tingkah kalau datang ke pesta sendirian.  Memang ada beberapa trick untuk datang ke pesta sendirian, yang nanti saya akan kasih tahu tapi sabar2 dulu ya.

Kalau pesta kawinan ala barat, biasanya yang single2 didudukkan di meja bersama dengan para singleton yang lain.  Tujuannya supaya sesama single berbaur dan mungkin klik dan bisa berlanjut.  Intinya, supaya tidak canggunglah.  Pesta seperti ini saya suka, karena saya jadi punya kenalan baru dan kadang kalau si empunya hajat pintar, yang punya hobby mirip didudukkan saling berdekatan sehingga ada materi pembicaraan.

Kalau pesta resepsi ala Indonesia, sebenernya lebih enak lagi.  Karena begitu banyaknya undangan, orang2 tidak terlalu memperhatikan kita celingak celinguk.  Kita bisa datang, cari teman yang mau antri salaman, atau makan dulu sambil nyari temen yang belum salaman, lalu salaman bareng2 biar antrinya tidak lama dan perut sudah tenang sambil ngobrol2.

Cocktail party juga biasanya gampang.  Biasanya event2 seperti pembukaan sesuatu, peluncuran buku, atau event kantoran atau profesi, banyak yang datang sendirian juga, sehingga tergantung kita saja apakah kita mau jadi manusia ramah atau manusia antisosial. Lagipula, acara seperti ini terbuka, dalam artian, kita bebas pulang kalau kita merasa bosan karena hanya mingle2 saja.  Beberapa acara ulang tahun juga demikian, tetapi kita biasanya harus nunggu tiup lilin baru bisa minta izin pulang kalau tidak betah.

Yang sulit kalau diundang gala dinner.  Biasanya pesta seperti ini untuk penggalangan dana.  Acaranya duduk di satu meja bundar bersama mungkin 10 orang dalam meja, lalu ada acaranya.  Biasanya acara terakhirnya lumayan bebas alias berajojing dan kita bisa pulang.  Tapi selagi cara makannya, kalau kebagian teman semeja yang ngga asik bisa bete’ sendirian.  Kalau pesta begini, memang paling enak bawa teman karena bisa celingak celinguk ga tau mau ngobrol apa, apalagi kalau di meja kita semua bawa pasangan atau teman, paling ngga tidak diem saja di meja.  Tapi sekali lagi, kalau yang punya hajat tahu kita single, kita akan disatukan dengan yang datang sendirian juga.  Biasanya pesta model begini RSVP, sehingga yang mengatur meja sudah tahu mengatur tamu duduk di mana.

Yang paling sering kita datangi tentunya pesta kawinan.  Rikuh? Ini tips saya:

  1. Nomor satu adalah percaya diri.  Caranya, kita tampil prima.  Pakai baju yang bikin kita merasa paling cantik.  Pakai make up tanpa cela.  Kalau perlu pakai tukang dandan di salon.  Tata rambut sehingga kita kelihatan lain, alias membuat pangling.  Pokoknya, segala cara supaya kita merasa PD. Lalu masuk ke pesta kawinan seolah-olah Anda menjadi perhatian semua orang.  Karena sendiri, perhatian tentunya untuk kita, bukan pasangan kan?
  2. Kalau ke pesta kawinan, jangan datang sebelum pengantin tiba atau datang terlalu tepat waktu.  Datang terlambat.  Misalnya pestanya malam, datangnya jangan jam 7 tetapi jam 8 ketika orang masih ramai tetapi antrian salaman sudah pendek dan orang2 sudah mulai sibuk makan.  Jadi tidak sempat bengong sendirian.  Yang pasti, datang pas acara makan sudah dimulai.
  3. Begitu datang, langsung ke tempat makan adalah ide yang baik.  Sembari kita antri makan dan sibuk, biasanya ada teman yang lihat dan nyamperin, lalu kita tahu dimana teman2 kita yang lain pada bergerombol.

Yang penting, sibukkan diri kita dengan makan, atau pura2 makan, karena kita jadi tidak salah tingkah.  Sementara makan, lirik2 kalau ada yang kita kenal.  Kalau tidak, konsentrasi penuh pada makanan, salaman, lalu langsung pulang.

Kalau pestanya duduk?

  1. Dengan anggapan duduk dengan orang2 yang cocok, perkenalkan diri sendiri kepada orang2 semeja makan.
  2. Paling tidak tahu dengan nama orang di sebelah kita.  Pertanyaan standar: kerja di mana, kenal yang punya acara dari mana, dll.  Siapkan list pertanyaan dari rumah kalau perlu, pertanyaan2 ‘ice breaker’.
  3. Kalau yang duduk di sebelah kita kelihatan tidak tertarik ngomong dengan kita tetapi lebih tertarik ngobrol dengan pasangannya, ya biarin saja.  Untuk itulah kita punya yang namanya smartphone, bisa update status di Twitter atau Facebook.  Alias kita apes.  Kalau sudah begini, tunggu sebentar, numpang ke belakang, lalu cari alasan untuk bisa meninggalkan pesta dengan segera.  Paling tidak, jangan mau rugi, habiskan dulu makanan, baru kebelakang.

Enaknya kalau ke pesta sendirian adalah, kita tidak perlu menunggu teman atau pasangan kita untuk pulang.  Kita bisa pulang seenak diri kita sendiri kalau sudah merasa capek atau bosan.  Dan yang penting, PeDe!

Si Janda Kaya Pergi Berlibur ke Raja Ampat

•Maret 26, 2011 • 13 Komentar

Kepulauan Raja Ampat. Keindahan tiada tara.

Akhirnya, bulan yang ditunggu2 untuk cuti 7 hari penuh datang juga.  Dari tahun lalu, saya dan teman2 saya yang doyan menyelam ini membuat dan menabung untuk bisa meluncur ke Wayag, suatu pulau yang ada di wilayah Kepulauan Raja Ampat, Papua.  Memang libur sebelumnya belum terlalu lama, waktu saya pergi ke Siem Reap, Kamboja (sekedar menghabiskan waktu Valentine bersama teman2 sesama single, ketimbang jomblo di rumah?).  Tetapi liburan kali ini bener2 liburan: jauh dari kota (di tengah laut) tanpa sinyal.

Hanya satu yang memberatkan saya untuk pergi jauh dan lama2: anjing2 saya.  Namun sudah ada Al, sang asisten, yang akan menjaga guguk2 saya.  Maka berangkatlah saya berlibur bersama teman2 saya, dan bertemu dengan 5 orang teman baru yang bekerja di Freeport.  Berkumpullah 12 orang penyelam yang siap mengeksplorasi perairan timur Indonesia.

Dari keduabelas orang di dalam tim kami, empat adalah perempuan, dan semua single.  Yang laki2 semua sudah menikah, kecuali satu (yang berumur hampir separuh dari umur saya).  Namun di tengah lautan yang tidak bersinyal, kami semua menikmati keberadaan masing2 diri kami sendiri, dan tentunya, menikmati alam nan indah luar biasa.  Mulai dari laut yang biru, pantai yang bersih tak terpolusi, keindahan bawah laut sampai pemandangan kepulauan Raja Ampat dari bukit yang curam, yang ditanjaki selama kurang lebih 30 menit.

Untuk sejenak, kami lupa apa yang kami tinggalkan di Jakarta atau Timika.  Pekerjaan, pasangan, masalah2, semua seolah

Berfoto dengan latar belakang Kepulauan Raja Ampat

hilang oleh indahnya suasana.  Kehidupan selama 5 hari di laut, di atas kapal, berinteraksi dengan sesama penghuni kapal, bercanda, saling menunjukkan keindahan alam, sampai saling sharing pengalaman2 kita masing2 (peserta paling tua 56 tahun, yang paling muda 23 tahun).  Dalam liburan yang sejenak ini, bukan hanya rileks dan keindahan alam saja yang dinikmati, tetapi juga pembicaraan2 dan diskusi2 mengenai tempat hiburan di Jakarta, perempuan, kadang relationship, sehingga terjalin ikatan yang kuat diantara kami semua.

Rutinitas.  Liburan adalah upaya untuk keluar dari rutinitas.  Di kapal, sambil duduk mengopi, saya memandang jauh ke depan memikirkan kehidupan yang saya tinggalkan di Jakarta.  Macet, kerja, olah raga, keluh kesah.  Lupa semua masalah untuk sejenak di kapal ini.

Kebetulan juga, hobby saya yang satu ini selalu membuka kesempatan saya untuk ketemu dengan orang2 baru yang mempunyai interest yang sama: menyelam.  Beragam profesi manusia saya temui setiap saya mengikuti trip2 menyelam dengan segala kemenarikan dan variasi hidupnya.  Beragam sifat manusia saya temui yang membuat diri kita kaya.  Ini yang saya sukai dari liburan yang tidak hanya sekedar jalan2, foto2 mengumpulkan barang bukti sudah sampai di suatu tempat, atau belanja gila2an.  Liburan yang sukses bagi saya adalah liburan dimana berinteraksi dengan orang2 yang memperkaya diri kita mengenai hal2 yang baru.

Jadi, intinya, cobalah pergi berlibur selama masih bisa mengambil cuti dari kantor.  Lakukanlah perjalanan untuk melupakan sejenak rutinitas hidup.  Bersantai, kumpul bersama teman2, bertemu kenalan2 baru.  Kali2 ketemu orang yang pernah mengalami hal2 yang sama seperti kita sehingga bisa bertukar pikiran.  Syukur2 ketemu teman yang nantinya menjadi teman dekat, bahkan pasangan hidup.  Hidup akan terasa lebih ringan dengan ketemu orang2 baru; kadang cara kita memandang hidup menjadi berubah walaupun sedikit setelah liburan.

Memang untuk orang yang single seperti saya, waktu untuk liburan menjadi lebih mudah dibandingkan dengan mereka yang mempunyai keluarga, karena saya tidak perlu menyesuaikan diri dengan jadwal liburan sekolah ataupun cuti pasangan.  Ibaratnya, paling cuti pembantu saja yang musti disesuaikan kalau mau berangkat cuti.  Tetapi cobalah ambil cuti beberapa hari saja ke tempat dengan suasana yang baru dan lingkungan baru.  Lakukan hal2 yang baru dengan kenalan2 yang baru.  Sebagai seorang single yang sehari2 sendiri, liburan seperti ini sangat membantu membuat pikiran kita positif.

Sebenarnya, weekend sekalipun dapat menjadi liburan yang bermakna.  Coba deh, sekali2 melakukan sesuatu yang lain di satu weekend.  Walau hanya dua malam, bisa menyegarkan pikiran.

Memotret pemandangan

Satu hal yang sering dilakukan oleh rekan2 yang single adalah tidak pergi cuti atau menghibur diri karena status single-nya.  Karena takut sendirian.  Wah.  Jangan sampai status single menjadi penghalang untuk menghalangi dan menikmati rahmat dan karunia dari Tuhan.  Justru karena masih single maka gunakan kesempatan untuk cuti sebaik2nya.  Cari teman yang single juga untuk menghabiskan masa liburan dengan berkesan.  Tentunya teman yang mempunyai kesukaan yang sama dan dapat ditolerir kebiasaan2nya, apalagi kalau share kamar.  Jangan takut sendirian.  Beberapa kali saya pergi berlibur dan mendaftarkan diri dalam trip tanpa tahu siapa saja yang ikut dalam trip.

Tim Wayag. Bertemu teman2 baru.

Liburan itu penting, bagi semua orang, liburan itu penting karena menghentikan sejenak rutinitas kita sehari2.  Rutinitas yang kadang membawa kita kepada kejenuhan dan rasa frustrasi.  Kehidupan yang monoton menjadi lebih berwarna jika dalam beberapa saat kita melakukan sesuatu yang berbeda, dalam suasana yang berbeda.  Bisa mencairkan kekakuan diri maupun sesama.  Bagi saya yang single ini, kadang suka merasa ingin melepaskan lelah dan kesendirian dalam kehidupan sehari2.  Bertemu dengan orang2 baru, melakukan kegiatan yang disukai, beraktivitas yang lain dari hari2 biasa membuat jiwa lebih segar dan siap untuk menghadapi rutinitas berikutnya.  Dengan berlibur juga sejenak melupakan atau menunda menyelesaikan masalah dengan menjernihkan otak yang sudah jenuh.  Ketemu kenalan2 baru memperkaya kehidupan kita.  Suasana yang indah dan pemandangan yang bagus membuat kita bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati karunia-Nya yang tidak ada habisnya.  Paling tidak, liburan kali ini buat saya benar2 menyeimbangkan mental yang sudah lelah dengan kehidupan kota besar yang ramai namun sepi.  Delapan hari bersama teman2 sehobby merupakan kesegaran rohani tersendiri.

Jadi, kapan jadwal liburan berikutnya?

*artikel tentang Wayag Raja Ampat ada di blog ini

Cerai dan Cinta

•Maret 9, 2011 • 13 Komentar

I would love to love...

Pagi2 baca status2 facebook sambil nyeruput kopi, tiba2 ada yang statusnya berubah dari seorang teman lama: “Fulan is now single”.  Lha.

Walau sudah beberapa kali mengikuti teman yang dihadiri pernikahannya terus mengikuti proses cerainya, tetap saja mendengar khabar cerai masih suka rada kaget.  Ngga kaget2 banget karena saya sendiri cerai sehingga saya tahu cerai itu sesuatu yang mungkin terjadi di sekitar saya, mungkin juga karena teman2 saya banyak yang statusnya sudah single kembali, tetapi ‘rada’ kaget karena sedikit banyak saya agak menyayangkan kok bisa dia juga cerai ya…

Kalau saya pikir2 kenapa teman2 saya ini cerai, alasannya banyak.  Ada yang alasannya orang ke-tiga.  Ini mungkin yang paling banyak.  Kemudian disusul dengan sudah tidak cocok, inconsolable differences kalau bahasa Hollywoodnya.  Ada yang bilang, “Sudah ngga cinta lagi”, yang kemudian biasanya dibalas dengan, “Ya, kalau sudah kawin lama kan cinta juga hilang”.

Duuuh, sedih banget.  Nah kalau sudah tidak cinta lagi kok ya masih kawin?  Saya mungkin orang yang amat sangat romantis sehingga beranggapan kalau yang namanya hidup bersama itu harus dengan cinta.  Mungkin karena perkawinan saya sendiri dulu kandas karena tidak didasarkan oleh cinta, sehingga saya merasa cinta adalah fondasi dari kesepakatan untuk hidup bersama.  Apa enaknya hidup bersama, tidur bersama dengan orang yang kita tidak cintai?

Saya bahas kasus teman saya yang baru2 ini curhat ke saya, yang saya geleng2 kepala luar biasa mendengar ceritanya.  Teman saya, sebutlah namanya Ali, sudah menikah 6 tahun dengan istrinya.  Perkawinannya tidak harmonis sama sekali, karena istrinya punya pacar.  Bahkan, kadang istrinya malah nginep di rumah pacarnya, pergi liburan dengan pacarnya, dan anehnya, cerita pula sama si Ali ini kalau dia baru pergi sama pacarnya.  Kadang dia cerita bahwa dia tidak habis pikir kok ya istrinya bisa begitu.  Saya tanya, apa sudah diomongin, dia bilang, “Mungkin itu hanya satu fase, mungkin nanti dia akan kembali ke saya.  Gemana ya, saya masih cinta sih, saya masih mengharapkan dia kembali biar bagaimanapun”.

Ada lagi teman saya, sebutlah namanya Dandi, yang istrinya mempunyai pacar juga.  Dandi sangat patah hati ketika istrinya mengatakan bahwa dia sudah lama tidak mencintainya.  Tetapi Dandi malah bisa lho, ketemu sama pacar suaminya dan bilang, “Kamu jangan nyakitin istri saya ya”, bukannya ditonjok mati2an.  Mereka masih menikah, masih bareng karena ada anak (memang anak selalu menjadi alasan kenapa dua orang manusia masih bersama, ya), tetapi kalau cuti sekarang mereka sendiri2, walau tinggal seatap tetapi tidak melakukan hal2 bersama sebagaimana pasangan. Waktu saya tanya apakah mereka akan tetap bersama, Dandi hanya bilang tidak tahu.  Beberapa bulan berlalu, status mereka berdua masih hidup bersama tetapi tidak bersama.  Bener2 statusnya it’s complicated kalau di facebook.

Saya suka merasa kasihan sama dua orang manusia yang tidak bisa hidup bersama walaupun saling mencintai.  Baru2 ini orang kantor saya ada yang kawin lari, tidak peduli dengan ketidak setujuan orangtua mereka yang menentang mereka untuk menikah bersama karena beda agama.  Wah, saya salut.  Wah, romantis banget.  Bukankah cinta diajarkan oleh tiap agama?  Kenapa juga agama harus memisahkan dua orang yang saling mencintai?  Mungkin ini pertanyaan yang konyol dan naif, tapi ya, kalau cinta, apa salahnya?

Saya kadang lebih kasihan lagi dengan dua orang manusia yang harus bertahan menikah walaupun tidak cinta karena salah satu mempunyai posisi lemah.  Biasanya, yang lemah tidak mempunyai kedudukan finansial yang cukup untuk hidup sendiri.  Atau, salah satunya terlena dengan status sosial yang sudah bagus, atau malu kalau menjadi single kembali.  Apalagi kalau dalam perkawinannya dihiasi dengan kekerasan rumah tangga.  Aduuuuh….seolah-olah dia tidak pantas untuk diperlakukan dengan lebih baik, seolah dia tidak berhak untuk memperoleh ungkapan cinta yang lebih wajar. Setidaknya, mereka bertahan menikah dan berharap bahwa cinta yang pernah ada (kalau pernah) akan tumbuh kembali (atau tumbuh walaupun cinta tidak pernah ada).

Yang cintanya sudah hilang masih berharap untuk tumbuh kembali rupanya.  Tapi sedih sekali, kalau harus hidup bersama dengan orang yang tidak kita cintai.

Kalau saya, satu2nya alasan kalau saya akan bersama seorang laki2 adalah, karena saya cinta sama dia.  Karena, secara materi, saya sudah cukup.  Lagian saya juga sudah pernah kawin, jadi tidak perlu status istri.  Status janda juga tidak terlalu mengganggu, wong teman2 saya juga banyak aja yang janda atau duda.  Anak juga tidak menjadi motivasi untuk kawin, wong umur juga sudah 43.   Jadi satu2nya alasan saya kalau mau hidup dengan orang lain adalah karena saya cinta sama dia.  Karena kalau sama dia, hidup saya akan lebih berwarna dan lebih membawa kebaikan dan berkah.

Dan kalau bisa, cintanya jangan cepat hilang.  Jangan hilang, tetapi tetap ada, dan kalau bisa tumbuh terus.  Mudah2an ngga muluk.

Pendamping: apa mutlak perlu?

•Februari 28, 2011 • 8 Komentar

(Sembari nunggu obat di RSPI yang lama nian…)

Saya teringat sama ibu kos saya waktu kuliah di Bandung. Namanya Ibu Yanti. Dia sudah menjadi jamda sejak umurnya 35 tahun, punya anak 3 (sekarang umurnya sudah 70). Selain bisnis kos2an, dia juga seorang ulama yang dekat sama anak2 muda. Tempat kos saya selalu penuh dengan anak2 muda yang datang untuk penyegaran rohani. Kadang mereka mampir untuk sekedar say hi, ikutan makan malem, ngobrol2 refreshing sama si Ibu.

Saya inget bener Ibu ini cool banget. Dia sangat menikmati hidupnya. Selain sibuk dengan kegiatan kotbah, dia juga enjoy bener ketawa ketiwi sama anak2 kos. Yang saya paking senang adalah kalau curhat soal keluarga saya atau pacar2 saya. Dia bener2 bisa kasih pandangan yang segar dan up to date dan masuk ke kepala saya yang lumayan kepala batu ini.

Selama 4 tahun kos di tempat itu, saya inget banget kalau si Ibu sering dijodohin sama orang2. Maklumlah, ibu ini cantiknya selangit. Teman2 kos saya saja suka bengong kalau dia yang bukain pintu. Kadang2 kita2 yang kos suka disuruh ketemu sama bapa2 yang biasanya duda, yang dijodohin sama dia. Tapi dia tuh kelihatannya so full of her life, sangat enjoy dengan hidupnya yang sederhana dan dikelilingi orang2 yang mencintai dirinya. Sepertinya dia sudah merasa cukup bahagia dengan kehidupannya dia dan selalu menolak dengan halus bapa2 yang dijodohkan dengan dia. Padahal yang dijodohin sama beliau direktur2 lho.

Kadang saya mikir, apa cintanya sama mendiang suaminya segitu besarnya sehingga dia sudah tidak perlu lagi merasakan cinta kembali? Atau konsentrasinya bulat untuk membesarkan 3 orang anak2nya (yang sudah sukses sekarang)?

Yang saya tahu, dia tidak pernah merasa kesepian, selalu membagi kasih terhadap sesama secara tulus, dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Dia tidak minta macam2, tetapi selalu senang dengan apa yang dia miliki. She is full of life and enjoying life to the fullest.

Saya mempunyai beberapa tante yang juga menyendiri setelah ditinggal suami mereka. Entah cerai, entah meninggal. Ada yang punya anak, ada yang tidak. Lalu, saya membaca beberapa comment dari pembaca blog ini, bahwa saya pasti membutuhkan pendamping dan tidak mungkin hidup sendiri.

Ah. Masa’ sih? Banyak sekali janda2 yang hidup sendiri dan bertahan sendiri, yang hidupnya bahagia. Mereka seolah menerima dan menjadi manusia seutuhnya dalam kesendiriannya. Pada dasarnya, kita tidak sendiri. Kita memiliki teman2, kerabat dan keluarga. Sebenarnya dengan membagi kasih terhadap sesama, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Selama kita memiliki hobi dan hidup sepenuhnya menikmati karunia yang ada, bukan menyesali apa yang tidak ada, hidup sendiri tidaklah menakutkan, apalagi menyedihkan.

Sedangkan ada istri2 yang merasa tetap kesepian walaupun punya suami. Artinya everything is on our mind, bukan?

Membaca comment2 orang yang yakin bahwa saya pasti akan membutuhkan seseorang pendamping, terus terang sampai detik ini belum ada yang saya anggap pantas untuk mendampingi dan share kehidupan saya yang super dinamis ini. Sama seperti Ibu Kos saya itu, terlalu banyak yang indah dalam hidup ini sehingga tidak ada waktu menyesali apa yang saya tidak miliki.

Bukan saya menutup diri. Mungkin memang ada beberapa orang yang ditakdirkan untuk hidup sendiri. Tiap2 orang ada jalan hidupnya dan tiap2 orang bisa bahagia dalam menjalankan kehidupannya. Dengan atau tanpa pendamping. Dan dunia ini terlalu banyak kurnia yang harus disyukuri ketimbang mencari2 sesuatu yang mungkin tidak digariskan untuk kita.

Akhirnya, Tuhan yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya menjalankan dengan sebaik2nya, menikmati pemberiannya, dan mensyukuri apa yang diberikan kepada kita.

*terimakasih saya dikaruniai 3 ekor anjing, orang2 yang peduli dengan saya, teman2 yang selalu membuat saya ketawa dan keluarga saya yang menjadi curahan kasih sayang saya.

Petunjuk Kehidupan?

•Februari 6, 2011 • 7 Komentar

Teman blogging saya, Therry, tag saya di blognya yang berjudul Guide to Life. Petunjuk hidup. Kalau sudah di tag, mustinya saya juga ikutan tulis Petunjuk hidup. Saya sendiri sebenernya rada segan nulis petunjuk hidup, karena saya pikir saya ini siapa sih seolah2 saya sukses bener, kayak yang paling bener sendiri.  Padahal petunjuk kehidupan saya juga sering berubah-ubah seiring dengan apa yang saya lihat, saya baca dan teman2 yang saya ajak diskusi.

Masalahnya, saya sendiri lagi mikirin mengenai hidup. Terus terang, ada saat2nya saya merasa kurang puas dengan apa yang sudah saya capai sampai dengan hari ini.  Seolah-olah ada yang kurang rasanya.  Memang kalau dilihat secara materi, sudah lebih dari cukup deh; semua yang esensial saya punya.  Pekerjaan, tempat bernaung, dapur yang ngebul.  Plus2nya juga lumayan, ada pembantu, supir, tiga anak yang berkaki empat dan mobil.  Cuma namanya manusia tetep aja ada yang merasa kurang.  Kadang rasanya hidup saya ini monoton, kalau pernah nonton “Groundhog Day”, nah, seperti itulah. Kadang kalau weekend, saya suka baring sambil mikir2 tentang hidup.  Tentang diri saya sendiri.

Walaupun saya bukan seorang alim ulama yang sempurna ibadahnya, saya percaya bahwa petunjuk hidup saya yang paling bener adalah Al Qur’an.  Semua yang saya perlu untuk selamat ada di kitab tersebut.  Jadi kalau ditanya my guide of life, ya itulah, Al Qur’an itu.  Sebisa mungkin, saya mencoba untuk mempelajari dari ayat ke ayat makna isinya dan saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Ya gitu deh.  Siapa sih orang Islam yang ngga begitu, ngga istimewa juga kan saya?

Beberapa hal yang saya pelajari belakangan ini adalah, bahwa manusia bisa saja merencanakan tetapi hasil akhir Tuhan juga yang mempunyai andil.   Saya itu orangnya sangat disiplin, teratur, dari jam ke jam saya sudah membuat rencana apa yang akan saya lakukan.  Tetapi toch rencana tinggal rencana.  Siapa yang merencanakan kawin kapan dan akhirnya bercerai.  Tetapi ternyata survive juga.  Masa2 seperti badai gila itu lewat juga dan saya ngga sinting tuh.  Malah saya pikir, hidup saya sekarang jauh lebih baik daripada ketika saya masih kawin, baik secara finansial, maupun spiritual; saya lebih tenang.  Mungkin guide saya yang pertama adalah, Keep the faith, tetap yakin dan mempunyai keimanan bahwa semua akan berjalan dengan baik kalau kita berdoa.  Doa adalah kekuatan yang luar biasa dahsyatnya untuk melalui masa2 susah, maupun masa2 senang.

Guide saya yang kedua, adalah, jujur.  Tidak berbohong kepada diri sendiri, tidak berbohong kepada orang lain.  Kepada diri sendiri, mengakui bahwa kita memang ya kita ini, begini, bukan si A atau si B.  Inilah saya.  Saya tidak suka diperlakukan seperti itu, maka saya katakan dan ungkapkan bahwa saya tidak suka.  Honesty is the best policy. Saya juga tidak perlu meniru gaya hidup orang lain kalau tidak sesuai dengan saya.  Saya tidak perlu jadi orang lain agar disukai oleh orang lain.  Saya tidak perlu datang dan berbasa-basi dengan orang2 kalau itu tidak membuat saya nyaman.  Bagian dari menghargai diri sendiri adalah jujur terhadap diri sendiri.

Pelajaran yang paling penting yang saya dapatkan dari ayah saya adalah, membuat hidup kita berarti bagi orang lain bilamana mampu.  Ayah saya selalu mengajarkan untuk memberi daripada menerima.  Jangan berhutang.  Menurut saya, dengan memberi, saya memiliki power.  Berhutang membuat kita berada dalam posisi yang lemah.  Karena itu, jangan mau jadi orang miskin.  Miskin duit, miskin pengetahuan, miskin kepribadian.  Jadilah orang yang kaya.  Karena hanya orang kaya yang mempunyai kemampuan untuk memberi dan mempunyai power.

Selain memberi, juga bisa shareSharing is beautiful. Kalau kita bisa memberi, kita juga bisa menerima dan terbuka terhadap kekurangan2 yang ada dalam diri kita maupun diri orang lain.  Sharing itu berbagi.  Hidup, saya rasa, lebih indah kalau bisa kita share.  Makanya, kalau saya punya pasangan hidup, yang penting adalah kualitas sharing kami.  Bagaimana kita share waktu, perasaan, pikiran.  Pertemanan saya yang berumur panjang dengan teman2 saya umumnya karena kita berhasil sharing.  Sementara, relationship saya banyak yang gagal karena gagal sharing. Ada seninya juga berbagi rupanya.  Bagaimana kita berbagi tanpa menginjak kaki pasangan kita dan merompak kehidupan pasangan kita.  Hmmmh…!

Yang terakhir dan paling sulit menurut saya adalah, sabar.  Duh, susahnya jadi orang sabar.  Tapi semua orang yang sabar bisa dipastikan akan berhasil.  Sabar dan tekun pasti akan membawa kita ke suatu tempat yang lebih baik.  Sementara ketidak sabaran tidak akan membuat kita maju selangkahpun.  Misalnya, saya sepeeet banget lihat perut saya yang mulai berlemak.  Tapi ya musti sabar ke gym 3x seminggu dan berpegal-pegal ria di hari berikutnya kalau mau itu lemak pergi.  Harus bersabar dengan mengubah pola makan dan menahan napsu ngemil.  Sabar itu ilmu yang terpakai di segala macam bidang kehidupan.  Dan orang tidak ada yang pernah lulus pelajaran bersabar karena ujiannya ada melulu, ngga ada tamat-tamatnya.

Satu hal yang saya masih lakukan adalah melakukan sesuatu yang baru dari waktu ke waktu.  Ini penting untuk menambah warna kehidupan.  Coba ikut kelas baru di gym, misalnya yoga.  Atau coba tekuni hobby baru.  Atau sesimple ambil jalan lain menuju ke kantor.  Pelajari sesuatu yang baru.  Coba menu baru.  Paling tidak, ini membuat kita menjadi orang yang mempunyai hidup yang menarik dan tidak monoton.

Mungkin dikala kita ada di persimpangan jalan, sebagaimana saya sekarang merasa ada yang kurang, karena saya merasa hidup saya kurang bermakna karena saya kurang melakukan apa yang ada di atas.   Belakangan ini, saya akui saya kurang banyak berbagi dengan lingkungan sekitar saya.  Sepertinya saya banyak terfokus pada kegiatan saya sendiri sehingga tidak merasa mempunyai makna tuh hidup sehari2 saya.  Memang paling enak kalau punya pekerjaan yang bisa merubah hidup orang lain menjadi lebih baik, tetapi kalau pekerjaannya seperti saya, ya paling tidak memberi suasana dan lingkungan yang lebih baik terhadap lingkungan kantor saya dan memberikan apa yang saya ketahui kepada yang lebih muda mungkin.

Tidak ada yang istimewa dan baru toch?  Semua juga ada di Qur’an bukan?  Saya sama sekali bukan expert lho dalam melakukan ini, tapi kalau saya suka gundah, biasanya saya kupas hal2 ini dan coba cari apa yang belum saya lakukan.

Dan hidup ini belajar terus isinya.  Kalau kita berhenti belajar dan berkembang, artinya kita sudah berhenti hidup.

Bedanya Dulu dan Sekarang…

•Februari 4, 2011 • 6 Komentar

Sepulang kantor, kadang saya menunggu macet bersama teman2 sambil ngopi atau makan malam. Biasanya teman2 saya ini para single juga, entah duda atau janda, punya anak atau tidak mempunyai anak. Kebanyakan mereka umurnya 40-an.

Sekali waktu, topik yang diangkat adalah bedanya jaman kita dulu pacaran dan sekarang. Dulunya itu waktu kita masih baru2 mulai kerja, memulai karir dan masih bersemangat memandang masa depan. Rasanya dulu semua cerah, bisa dikuasai, bisa diatur, semangat ’45. Kadang setelah pulang kantor masih bisa ‘gaul’ sampai jam 12 malam dan besoknya jam 7 sudah ada di kantor lagi. Rasanya tenaganya masih luar biasa banget.

Setelah umur menginjak 35, baru deh merasa kalau badan ngga sekuat dulu. Begadang makin jarang, lebih suka di rumah kalau tidak penting2 amat. Begitu masuk umur 40, rasanya mulai belagu lagi, tetapi dengan kata lain, belagu ngga mau susah. Ngga mau susah macet, ngga mau susah nunggu, ngga mau susah aja.

Kalau dulu waktu 20-an mau nungguin depan telpon, sekarang telepon ditinggal di charger aja, mau nelpon sukur, ngga juga ya sudah.

Kalau dulu diajak jalan dianya ngga mau suka kesel, sekarang ya udah, pergi jalan sama yang available aja.

Dari waktu baru lulus sampai umur sudah 43, hampir seluruh konsentrasi tercurah kepada karir. Alhamdulillah, karir berjalan lancar, rejeki ikut lancar. Kalau dulu makan di pinggir jalan dan asal2an, sekarang lebih selektif memilih makanan dan tempat makan. Pakaian dan sepatu mulai bermerek. Nah, kalau musti nangkring di jalan lagi buat dating, kok kayaknya ogah ya? Sekali aja sih ngga apa, tapi kok sayang rambut bau asap, sayang rok, terus males juga ya kalau musti turun ke bawah lagi. Kita kan mau perbaikan nasib, bukan maksudnya ngelaba dari pasangan, tapi paling ngga pasangan yang lebih gampang ditoleransilah. Udah males kalau makan di tempat yang ngga ada AC. Males susah judulnya…lha gue sendirian hepi kok, kenapa juga jadi musti makan kringetan sama elu, gitu kan.

Kalau dulu toleransi tinggi, sekarang bener2 ngga mau susah menyesuaikan diri. Misalnya, kalau dulu masih mau nungguin dia kalau telat, sekarang kalau dia orangnya jam karet, 2x telat tanpa alasan tepat dan tanpa kasih khabar, lanjooooot. Atau, “Eh ntar telpon aja kalau udah sampai ya, gue lihat2 baju dulu”. Atau besok2 kitanya ikut2an ngaret.

Kalau dulu masih sabar kalau dia masih ngeladenin temen2 perempuannya, sekarang agak berkurang toleransinya. Misalnya, saya dulu pernah kenlan sama cowok dan dekat, tetapi dia sering cerita, “Eh, aku ke bar kemarin dan kenalan sama cewek”, “Eh, aku sering di-bbm sama orang ini, padahal gue ngga suka sama dia..”. Kayaknya, eh, ngapain sih bilang2, pengen gue cemburu? Hari gini….kalau situ masih mau lihat2 toko sebelah, ya monggo, saya lanjoooot….

Kalau dulu dibela2in dandan kalau mau ketemuan, sekarang sih apa adanya aja deh, yang penting rapih dan bersih. Kalau suka jalan terus, kalau ngga ya lanjooootttt….

Kalau dulu toleransi dengan gaya hidupnya yang agak2 jorok di kos2an, sekarang menganggap kalau jorok2an itu tanda tidak menghargai diri sendiri, jadi bagaimana bisa menghargai orang lain? Kalau dulu tuntutannya tidak terlalu banyak, sekarang rasanya tuntutannya ada aja, kalau ngga, lanjooooot…..kata siapa makin tua makin desperate? Perasaan makin tua makin panjang list yang musti dicontreng.

Mengenai toleransi yang lebih sedikit, mungkin karena kitanya sendiri sudah mulai menemukan gaya hidup yang tetap, yang lebih stabil dan mapan, sehingga malas untuk merubah gaya hidup. Maunya, sesedikit mungkin menyesuaikan diri. Mungkin karena badan dan hati ini juga sudah alot ya…cuma males aja rasanya kalau gaya hidup berubah total. Misalnya, kalau si dia selalu minta ditemenin makan malam, lha…saya kan biasanya gym dulu..masa’ sekarang gymnya jadi malem banget? Atau dia yang takut anjing, aduh…masa’ tiap dia datang gue musti ngurung anjing2 kesayangan gue sih….

Kalau dulu kita dikasih kado apa aja hayo, sekarang saya terus terang agak menilai pemberian2. Kalau dulu memang duitnya cekak jadi ya masih sama2 dimaklumi, tetapi kalau hari gini ngasih kado yang tidak fungisional, tidak bermanfaat dan murah pula, kok kayaknya jadi mikir, ini orang gemana sih. Memang norak sih, tetapi sepertinya ekspektasi juga semakin tinggi dengan berjalannya usia.

Tante2 saya banyak bilang kalau saya terlalu banyak maunya, terlalu deskriptif, terlalu selektif, milih2. Lha iyalah. Saya kan ngga pernah main2 mencari pasangan hidup, masa ngga selektif? Masa asal ada yang mau aja? Apalagi kan ini untuk hubungan jangka panjang, daripada punya pacar/suami tapi makan hati, mendingan single dan happy aja terus, bukan?

Intinya, sah2 saja kalau semakin tua kita semakin bawel. Wong kita sudah banyak pengalaman, sudah mengalami ini dan itu. Wong kita sudah lebih mapan dalam pekerjaan dan lebih matang dalam hidup. Sudah lebih tahu apa yang kita mau dan apa yang kita harus hindari. Sudah mempunyai beberapa prinsip tambahan dan ekspektasi dari pasangan. Dan saya percaya, walaupun semakin susah mencari orang yang sesuai dengan kita, pasti masih ada, entah di mana, orang2 yang cocok dengan kita. Yang penting, sabar dan punya pikiran terbuka, ekspektasi tinggi tetapi tidak terlalu nyeleneh dan wajar.

Justru kalau hari gini ekspektasi tidak tinggi, saya jadi mikir, lha, kemana aja saya ini, kok standarnya ngga berubah?

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.