Apakah Kita Melihat ke Arah yang Salah?

•Maret 16, 2013 • 10 Komentar

Minggu lalu saya makan bersama teman-teman wanita saya. Kebetulan kita semua single, dan mulai membicarakan siapa2 yang kita temui selama ini. Kebanyakan kita ketemu dengan orang-orang yang, yah, tidak bisa diharapkan untuk menjadi pasangan hidup.

Salah satu teman saya yang akan berulang tahun ke 50 kemudian memberikan komentar. Cukup menarik komentarnya. Begini:

“Mungkin selama ini kita mengarahkan pandangan kita ke arah yang salah dalam mencari pasangan. Kadang kita ingin pasangan yang ganteng, sukses, berhasil, padahal mungin orang-orang yang biasa saja yang justru bisa membuat hidup kita lebih tenang. Misalnya, cowok yang kamu ketemu di gym dan selalu mematut-matut dirinya di depan kaca. Dia mingkin cowok idaman kamu, yang akhirnya akan menyakiti kamu karena dia tidak terlalu peduli dengan kamu karena sibuk mengagumi dirinya sendiri. “

“Bisa jadi cowok yang biasa2 saja yang berusaha keras untuk menjadi yang baik yang justru adalah cowok yang baik untuk kita. Mereka yang biasa dan bersahaja yang justru lebih menarik karena banyak perjuangan hidupnya”.

Nah. Apakah kita selalu mencari di kol yang salah? Di tempat di mana cowok-cowok yang keren, kaya, berhasil berkumpul? Cowok-cowok yang terlalu cinta pada diri mereka sendiri? Atau apakah kita mau melirik sedikit ke arah cowok-cowok yang biasa-biasa saja, yang mungkin mempunyai satu atau dua point yang menarik dan berkualitas?

Cerai: Diselamati?

•Februari 7, 2013 • 5 Komentar

Kemarin saya buka group di blackberry saya.  Isinya teman2 SMP saya, geng main saya yang perempuan semua.  Baru2 ini ada seorang teman yang sedang mengajukan cerai.  Dan, yang menarik, banyak dari teman-teman saya yang mengucapkan, “Congratulations ya…” kepada teman yang akan cerai ini.  Hmmh, apakah perceraian itu memang sebuah pencapaian prestasi sehingga perlu diselamati?

Memang di group ini banyak yang perkawinannya, terutama yang pertama, gagal.   Ada yang menikah kembali.  Ada yang tetap single seperti saya.  Ada juga janda ditinggal mati.  Saya, yang janda cerai saja, waktu mengambil keputusan cerai rasanya dunia mau runtuh karena merasa gagal.  Mungkin beda kalau suami tukang pukul atau tidak pernah memberi nafkah lahir batin kepada kita, keberanian untuk berpisah mungkin patut untuk diselamati.  Itupun saya rasa agak aneh, karena pastinya tidak ada orang yang kawin untuk kemudian bercerai.

Jadi, fenomena ini aneh.  Apakah memang teman2 saya merasa bahwa mereka menyesal menikah?  Apakah pernikahan itu begitu gelapnya sehingga ketika perkawinan itu berakhir rasanya lega dan perlu diselamati?

It's a lonely road but worth it

•Januari 17, 2013 • Tinggalkan Sebuah Komentar

Reblogged from JANDA KAYA:

Click to visit the original post

Well, trying to live healthy and keeping my body in shape need a really strong commitment.  I go to work in the morning, early.  Honestly, I have been trying to get back in shape since my body lost it in 2010; I weighed 67 kilograms.  That is FAT for me.  Thanks to that social boyfriend that bought me drinks every night.

Read more… 367 more words

It’s a lonely road but worth it

•Januari 17, 2013 • 1 Komentar

Well, trying to live healthy and keeping my body in shape need a really strong commitment.  I go to work in the morning, early.  Honestly, I have been trying to get back in shape since my body lost it in 2010; I weighed 67 kilograms.  That is FAT for me.  Thanks to that social boyfriend that bought me drinks every night.

Here is my life now.

I meditate before I go downstairs to find my coffee.  Probably about 10 minutes or so. 

I eat my lunch by myself because I only eat big portion of salad and everybody else eats rice and other stuff.  I bring my own salad everyday and eat it by myself in the pantry.  Because people usually eat out. 

When people eat cakes and sweets,  I tell them I don’t eat them.  When I go out, I don’t drink alcohol much aside from a glass of wine.  Then I just drink tonic water with lime so that people think that I’m drinking vodka tonic.  I don’t take sugar, so when people are eating sweets, I just stand there watching, or eat banana. 

I go to the gym and only communicate with my (cute) Personal Trainer.  I just work hard and don’t chit chat with others except after the gym.  My portion is 30-45 minutes of cardio, weight lifting, that’s 3 times a week.  Then I do yoga 2 times a week.  Pretty heavy exercise I would say, my PT pushes me to the limit when it comes to weights.  

For dinner, I don’t eat rice or any carbs.  Only veggies and protein, that’s it.  So when I go out with my friends, I am very picky because I don’t do Chinese restaurant.  Yes, it can become expensive when I eat out.  Then, I prefer to eat dinner by myself at home. 

So, it is a quiet and lonely road.  But after a couple of months, here is the result:

Image

 

Not bad for a 45 years old, hmh?  Worth all my sweat!

And I’m keep doing it.  It has become my habit.  Work, gym, eat clean, enough sleep.  Sound mind.  It is a lonely path but it is worth it.  

Have to tell you the last 3 months I lost 2.5 kilos and then another 1 kilo.  Then my fat-muscle ratio is reducing.  Now I weight 59, just like when I started.  I hope I can go to 57, lets see how it goes.  I will do it by myself if nobody will.  

Next target is to get my lower body more in shape.

back

•Januari 17, 2013 • Tinggalkan Sebuah Komentar

back

Working on my back

Kawin, Cerai dan Anak

•Juni 3, 2012 • 6 Komentar

Kemarin malam saya berbicara lama sekali dengan sahabat saya, sebutlah namanya X.   Si X ini statusnya menikah dengan anak satu, sudah hampir 20 tahun menikah.  Kalau saya perhatikan, dia jarang sekali di rumah.  Kalau pulang ke rumah, mampir dulu, entah berorganisasi, ketemu teman, baru sampai di rumah jam 12 malam.  Kalau weekend, sama juga, tidak ada di rumah, malah sering menginap dan kumpul dengan teman2 lain yang jauh lebih muda dari dirinya sendiri (misalnya dengan ikatan alumni2nya dia).

Sebagai teman, saya bertanya, kok kamu seperti yang tidak betah di rumah sih?  Saya memang sudah tahu kalau dia dan istrinya sudah tidak harmonis lagi, sampai2 sudah tidak berhubungan badan semenjak anak pertamanya lahir (waduh, gemana itu?).  Dia juga termasuk suami2 yang tidak bisa bicara dengan istrinya (yang cantik), maksudnya, berdiskusi yang intelektual dan agak ‘dalam’, sehingga mencari teman2nya untuk teman ngobrol.  Sebagai teman juga, saya tanya bagaimana istrinya ditinggal2 begitu sementara suaminya kesana kemari bergaul.  Dan setelah sekian lama pisah ranjang dan tidak ngobrol, kan jadi pertanyaan orang2, kok sering banget sendiri di luar rumah tanpa pasangan.

Alasannya adalah anak.  Dia takut anaknya, yang sudah remaja ini, menjadi minder.  Dia takut, sebagaimana banyaknya ketakutan orang tua, kalau dia cerai, anaknya secara psikologis akan terganggu.

Nah, saya balik bertanya.  Apakah sebagai seorang anak, tidak tahu kalau orangtuanya mempunyai masalah perkawinan?  Apakah seorang anak tidak bertanya2 ketika seorang bapak tidak pernah ada di rumah?  Ketika orangtua tidak pernah bicara, ketika hubungan orangtua dingin, apakah seorang anak tidak merasa ada yang tidak beres dengan keluarganya?

Dan pertanyaan saya kepada teman saya:  apakah status kamu sekarang lebih baik untuk perkembangan psikologis anak kamu dibandingkan kalau kamu berpisah baik2 dengan istri kamu?

Dia diam dan berpikir.

Saya lanjutkan lagi, bahwa dibalik dirinya yang tidak mau menyakiti orang2 di sekitarnya dan keluarga besarnya, sebenarnya dia berlaku tidak adil terhadap istrinya yang cantik.  Coba pikir, berapa lama istrinya, yang mungkin punya kesempatan untuk ketemu orang lain dan kawin lagi, hidup dengan menahan ketidak bahagiaan, dan lagi2, mungkin demi anak?

Rasanya ngga fair ya, dengan dalih berkorban menyalahkan anak.  Kasihan bener itu anak.  Dan anak juga manusia, mereka juga tahu kalau orangtuanya bermasalah.  Saya tidak mempunyai anak, tetapi saya pernah menjadi anak.  Dan saya merasa kalau orangtua saya sedang ada masalah atau hanya brantem2 kecil saja.  Dan saya bisa merasakan kasih sayang antara mereka, yang mana mempengaruhi bagaimana sebuah perkawinan itu seharusnya.  Nah, kalau orangtuanya sudah tidak harmonis, bagaimana si anak tahu keluarga yang harmonis itu bagaimana?

Saya pernah mendengan seorang teman asing yang mengatakan, in marriage, you either grow together or grow apart.  Dalam perkawinan, kita tumbuh bersama, atau tumbuh sendiri-sendiri.  Kalau sudah satu ke kanan dan satu ke kiri, apakah perkawinan harus dipertahankan demi status?

Saya jadi ingat juga perkataan teman saya mengenai perkawinan dan anak.  Bahwa janganlah anak menjadi alasan untuk kawin, dan jangan pula anak dijadikan alasan untuk tidak bercerai karena tidak bahagia.  Menurut saya, ungkapan teman saya ini benar sekali.  Karena anak bukanlah barang atau object tetapi seorang manusia juga.  Keputusan yang kita ambil, pasti anak yang menjadi korban.  Kita harus siap untuk jujur kepada anak.

Kalau kita tidak bahagia, bagaimana orang di sekitar kita akan bahagia?

Just Enjoying Life!

•Mei 27, 2012 • 3 Komentar

Wah, sudah lama tidak menulis di blog ini.  Masalahnya, selain sibuk, sedang tidak ada insipirasi. Sibuknya sibuk di kantor dan sibuk cuti (baru pulang dari Halmahera Barat).  Inspirasinya kok ya ndak ada buat menulis….tapi saya coba tulis ya, mengenai status saya sekarang ini:  saya sedang tidak jatuh cinta pada siapapun juga.  Rasanya belakangan ini banyak sih orang2 yang menarik, ganteng, baik, tapi ujung2nya semua jadi temen karena saya tidak ada perasaan apa2 tuh sama mereka.

Bagaimana rasanya tidak merasakan cinta kepada siapapun?

Rasanya bebas banget.  Ngga ada ketergantungan harus telepon si dia tiap hari.  Tidak ada rasa salah kalau pulang malam.  Tidak menerima telepon atau SMS menanyakan saya ada di mana, sedang apa, makan apa.   Kalau mau cuti tinggal angkat koper dan berangkat.  Tidak ada rasa bersalah kalau sedang bicara atau sedikit dekat dengan cowok kalau sedang pesta.

Intinya, secara batin, rasanya bebas.

Tidak tahu ya, 2 tahun belakangan ini rasanya hatinya kebas, ngga tertarik sama yang namanya cowok.  Ada sih yang melipir-melipir ke arah saya, tetapi akhirnya ya jadi temen, karena, ya itu tadi, rasanya perasaan sudah kebas sehingga tidak ada perasaan seperti, “Dia telpon saya apa ngga ya?”, “Dia seneng sama saya apa ngga ya?”…rasanya cuek aja gitu, terserah dia mau apa, saya mah menikmati suasana yang ada sekarang saja.

Kenapa ya begitu?  Apa belum ketemu sama yang cocok aja?  Apa memang pada umur2 tertentu, hati kita menjadi kebas? Apa hormon berpengaruh sama ketertarikan kita terhadap lawan jenis ya?

Yang penting sekarang sih saya menikmati apa yang ada saja.  Ada 3 anjing di rumah ditambah 2 orang anak asuh.  Itu sudah membuat rumah saya ramai dan seru.  Teman selalu ada: teman menyelam, teman jalan2, teman curhat (walau bingung apa yang mau dicurhatin), teman Zumba, teman ngopi.   Teman perempuan maupun teman laki2.  Rasanya hidup ini sudah komplit, walaupun banyak dari pembaca yang bilang hidup ini tidak komplit kalau tidak ada suami dan anak.

Nih.

Dari sekian banyak suami istri yang saya kenal, lebih dari 50% tidak merasa betah di rumah dan memimpikan hidup sendiri.

Terus, saya hanya perlu bersyukur bukan?

 

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.